Category Archives: Puisi/sajak
Suaramu
Suaramu, bahtera Nuh, menyelamatkan sepasang telingaku yang hampir tenggelam sunyi, menjodohkan bibir kita yang sebelumnya sendiri. Lalu mempertemukan jantung milik kita, yang kini detaknya seirama mengiramakan dayung ke arah badai yang kita tak kenal takut gelombangnya.
Suaramu
Suaramu, bahtera Nuh, menyelamatkan sepasang telingaku yang hampir tenggelam sunyi, menjodohkan bibir kita yang sebelumnya sendiri. Lalu mempertemukan jantung milik kita, yang kini detaknya seirama mengiramakan dayung ke arah badai yang kita tak kenal takut gelombangnya.
Nina Bobo
Bobo namanya, dia anak mama Nina, bintang di sekolah mamanya bangga. Mama Nina parasnya rembulan, seminggu sekali dia jadi purnama di tempat kerjanya. Mama Nina parasnya rembulan. Kembang-kembang di malam pasar sudah banyak yang mau layu. Kumbang-kumbang tua,
Nina Bobo
Bobo namanya, dia anak mama Nina, bintang di sekolah mamanya bangga. Mama Nina parasnya rembulan, seminggu sekali dia jadi purnama di tempat kerjanya. Mama Nina parasnya rembulan. Kembang-kembang di malam pasar sudah banyak yang mau layu. Kumbang-kumbang tua,
Hari Raya Cahaya
“Kau belum menjawab pertanyaanku, sayang” “Apakah harus? Kau sudah tahu jawabannya, sayang” Kujulurkan lidahku, tanganmu cepat sekali dan hidungku sudah dalam kuasa jepitan mautmu sekarang. “Matahari itu adalah Bumi yang terluka” Aku memulainya begitu. Kerut penasaran mulai memenuhi ruang
Hari Raya Cahaya
“Kau belum menjawab pertanyaanku, sayang” “Apakah harus? Kau sudah tahu jawabannya, sayang” Kujulurkan lidahku, tanganmu cepat sekali dan hidungku sudah dalam kuasa jepitan mautmu sekarang. “Matahari itu adalah Bumi yang terluka” Aku memulainya begitu. Kerut penasaran mulai memenuhi ruang
Karnaval Kematian
Jalan penuh , manusia menjejalinya dengan tubuh mereka. Kereta karnaval sebentar lagi datang, kataku. Yang lain masih terdiam khidmat. Semuanya abu-abu, Seperti mimpi, seperti tivi. Satu kereta sedang lewat, Manusia kesenangan menghitungi tubuh-tubuh hidup telanjang yang ada di dalamnya.
Karnaval Kematian
Jalan penuh , manusia menjejalinya dengan tubuh mereka. Kereta karnaval sebentar lagi datang, kataku. Yang lain masih terdiam khidmat. Semuanya abu-abu, Seperti mimpi, seperti tivi. Satu kereta sedang lewat, Manusia kesenangan menghitungi tubuh-tubuh hidup telanjang yang ada di dalamnya.
Liris Subuh
Subuh yang gothisHanya iris-iris liris yang jatuh bersama gerimisKita dibuai pagi yang galauMerisak perasaan Terjatuh di atas lututMeluntur dosa pada sujud
Liris Subuh
Subuh yang gothisHanya iris-iris liris yang jatuh bersama gerimisKita dibuai pagi yang galauMerisak perasaan Terjatuh di atas lututMeluntur dosa pada sujud
Beternak Lampiran Om Hasan Aspahani
: Kunjungan ke sekian kali ke sejuta-puisi.blogspot.com, dan sering baca yang Mei saja. MEI tiga nol, dua nol nol empat, di dalam jaringan Seratus lampiran, untuk aku buat sajakku sendiri Jantan, dan betina Itu saja Kau pikir bakal
Beternak Lampiran Om Hasan Aspahani
: Kunjungan ke sekian kali ke sejuta-puisi.blogspot.com, dan sering baca yang Mei saja. MEI tiga nol, dua nol nol empat, di dalam jaringan Seratus lampiran, untuk aku buat sajakku sendiri Jantan, dan betina Itu saja Kau pikir bakal
Ghazal Ghazalan
:Saya tidak begitu tahu bagaimana bentuk Ghazal sebenarnya. Setahu saya, ya cuma ikut-ikutan Om @haspahani waktu itu di Twitter. hehe.. Gemuruh tak pernah surut, gaduh. Melenakan, menimang-nimang jalan. LangitNya serupa sarung gelap. Menidurkan cahaya di sepanjang jalan. Basah gelisah di
Ghazal Ghazalan
:Saya tidak begitu tahu bagaimana bentuk Ghazal sebenarnya. Setahu saya, ya cuma ikut-ikutan Om @haspahani waktu itu di Twitter. hehe.. Gemuruh tak pernah surut, gaduh. Melenakan, menimang-nimang jalan. LangitNya serupa sarung gelap. Menidurkan cahaya di sepanjang jalan. Basah gelisah di