Category Archives: Kumpulan cerita
Vrooom!
Keringat sudah membutir banyak di seluruh wajahnya. Dia terbangun dengan tiba-tiba dari tidurnya, kedua telinganya masih belum mau lepas dari telapak tangannya. “Aku harus cepat keluar dari kota ini” Batinnya. … “Arrggh!” Mimpi buruk kembali menghantuinya, tubuhnya kembali lunglai di
Vrooom!
Keringat sudah membutir banyak di seluruh wajahnya. Dia terbangun dengan tiba-tiba dari tidurnya, kedua telinganya masih belum mau lepas dari telapak tangannya. “Aku harus cepat keluar dari kota ini” Batinnya. … “Arrggh!” Mimpi buruk kembali menghantuinya, tubuhnya kembali lunglai di
Pemuda Hujan #naskah
PEMUDA HUJAN By Muhlis Ali 09.11.2902 Flash Fiction “Rindu Hujan” @maulaali, 2011 EXT.TAMAN-SIANG NARATTOR Ini kisah di kota pemuja hujan yang penuh kepedihan. Sepasang kekasih yang dipisahkan takdir. Kisah kota yang selalu merindukan hujan. Di sebuah hari yang cerah di
Pemuda Hujan #naskah
PEMUDA HUJAN By Muhlis Ali 09.11.2902 Flash Fiction “Rindu Hujan” @maulaali, 2011 EXT.TAMAN-SIANG NARATTOR Ini kisah di kota pemuja hujan yang penuh kepedihan. Sepasang kekasih yang dipisahkan takdir. Kisah kota yang selalu merindukan hujan. Di sebuah hari yang cerah di
Nina Bobo
Bobo namanya, dia anak mama Nina, bintang di sekolah mamanya bangga. Mama Nina parasnya rembulan, seminggu sekali dia jadi purnama di tempat kerjanya. Mama Nina parasnya rembulan. Kembang-kembang di malam pasar sudah banyak yang mau layu. Kumbang-kumbang tua,
Nina Bobo
Bobo namanya, dia anak mama Nina, bintang di sekolah mamanya bangga. Mama Nina parasnya rembulan, seminggu sekali dia jadi purnama di tempat kerjanya. Mama Nina parasnya rembulan. Kembang-kembang di malam pasar sudah banyak yang mau layu. Kumbang-kumbang tua,
Rindu Hujan
“Mungkin matahari begitu takut pedih, gelembung sabun tak pernah sampai mencium pipinya.” Lain waktu kau mengucap ini juga, “Mungkin begitu rindunya langit dengan tanah. hujannya begitu sedih.” Beberapa bocah di kampung — termasuk aku– memulainya, terus menerus mengaduk air sabun
Rindu Hujan
“Mungkin matahari begitu takut pedih, gelembung sabun tak pernah sampai mencium pipinya.” Lain waktu kau mengucap ini juga, “Mungkin begitu rindunya langit dengan tanah. hujannya begitu sedih.” Beberapa bocah di kampung — termasuk aku– memulainya, terus menerus mengaduk air sabun
Karnaval Kematian
Jalan penuh , manusia menjejalinya dengan tubuh mereka. Kereta karnaval sebentar lagi datang, kataku. Yang lain masih terdiam khidmat. Semuanya abu-abu, Seperti mimpi, seperti tivi. Satu kereta sedang lewat, Manusia kesenangan menghitungi tubuh-tubuh hidup telanjang yang ada di dalamnya.
Karnaval Kematian
Jalan penuh , manusia menjejalinya dengan tubuh mereka. Kereta karnaval sebentar lagi datang, kataku. Yang lain masih terdiam khidmat. Semuanya abu-abu, Seperti mimpi, seperti tivi. Satu kereta sedang lewat, Manusia kesenangan menghitungi tubuh-tubuh hidup telanjang yang ada di dalamnya.
Tirai
“Kita di ujung hutan…” Belum habis nafasnya mengucap, dari arah seberang hutan gelap deru senapan mesin kembali bergemuruh. Menggetarkan udara dingin, menggetarkan lorong telinga mereka. “Kembali ke barisan. Masuk lubang kalian!” Teriak salah satu pimpinan rombongan patroli garis depan itu.
Tirai
“Kita di ujung hutan…” Belum habis nafasnya mengucap, dari arah seberang hutan gelap deru senapan mesin kembali bergemuruh. Menggetarkan udara dingin, menggetarkan lorong telinga mereka. “Kembali ke barisan. Masuk lubang kalian!” Teriak salah satu pimpinan rombongan patroli garis depan itu.
Hujani Kami
#11 #hujan Motor hitam kita membelah udara, kau di belakang dengan ragumu mencoba memeluk tubuhku. “Sayang, jaketku tak cukup tebal. Bisa kau peluk aku?” Udara di atas Jalan Kaliurang mendadak gelap, sekumpulan awan empuk seperti hendak memelukku juga. “Tidak kali
Hujani Kami
#11 #hujan Motor hitam kita membelah udara, kau di belakang dengan ragumu mencoba memeluk tubuhku. “Sayang, jaketku tak cukup tebal. Bisa kau peluk aku?” Udara di atas Jalan Kaliurang mendadak gelap, sekumpulan awan empuk seperti hendak memelukku juga. “Tidak kali
Hadiah Untuk Sinterklas
#10 #hadiah Pohon natal, lampu gemerlap, kaos kaki yang menggantung sudah menghiasi kamarnya. Semenjak dulu dia tidak pernah mendapatkan hadiahnya sendiri. Sekarang dia sakit-sakitan di ranjangnya, sendiri juga, masih menanti hadiah. “Kenapa aku tidak pernah dapat?” Keluhnya. Mungkin karena
Hadiah Untuk Sinterklas
#10 #hadiah Pohon natal, lampu gemerlap, kaos kaki yang menggantung sudah menghiasi kamarnya. Semenjak dulu dia tidak pernah mendapatkan hadiahnya sendiri. Sekarang dia sakit-sakitan di ranjangnya, sendiri juga, masih menanti hadiah. “Kenapa aku tidak pernah dapat?” Keluhnya. Mungkin karena
Bingkai Jendela
#9 #jendela Bingkai pertama: Jendela 4 bingkai, aku terpekur mengamatinya, menelusuri bingkainya dengan ujung pandangan mesra, Seperti membelai tubuh istri malam, tadi petang. Kacanya berembun juga empat-empatnya. Kuusap bingkai pertama dengan kaos lengan panjang yang kupakai, “Oh, ini pagi”
Bingkai Jendela
#9 #jendela Bingkai pertama: Jendela 4 bingkai, aku terpekur mengamatinya, menelusuri bingkainya dengan ujung pandangan mesra, Seperti membelai tubuh istri malam, tadi petang. Kacanya berembun juga empat-empatnya. Kuusap bingkai pertama dengan kaos lengan panjang yang kupakai, “Oh, ini pagi”
Berantai
NB: Ini tulisan disalin dari tugas sekolah ketika awal masuk SMA. Terima kasih mau memaklumi. :p#8 #pesan #15harimenulisdiblog Hi gw bonas, mantep kan? Ni emang salah satu nama panggilan gw, apa lagi temen gw mereka paling demen kalo manggil gw
Berantai
NB: Ini tulisan disalin dari tugas sekolah ketika awal masuk SMA. Terima kasih mau memaklumi. :p#8 #pesan #15harimenulisdiblog Hi gw bonas, mantep kan? Ni emang salah satu nama panggilan gw, apa lagi temen gw mereka paling demen kalo manggil gw